Identitas
Zine The Record is Coming Home lahir dari kerja kolektif tiga nama: Dana Raditya, Edo Wallad, dan Raka Dewangkara. Zine ini terbit pada 24 April 2022 di Bogor, bertepatan dengan perayaan Record Store Day Bogor, dan diedarkan di Eternal Store Bogor dengan harga yang sangat bersahabat, Rp25.000. Zine ini bukan sekadar arsip acara, melainkan catatan pulang bagi budaya rilisan fisik dan ekosistem musik di kota hujan.
Prolog
Setelah dua tahun alpa karena pandemi, Record Store Day Bogor akhirnya kembali digelar pada 2022. Mengusung tajuk The Record is Coming Home, sebuah plesetan dari jargon populer Football is Coming Home. Acara ini berlangsung pada Minggu, 24 april 2022, di pelataran parkir Eternal Store & Sigaraloka. RSD Bogor 2022 bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah ruang temu tempat para kolektor, musisi, penjual rilisan, dan penggemar musik saling berjumpa kembali, merayakan budaya mengoleksi rilisan fisik yang sempat terhenti oleh jarak dan keadaan.
Sinopsis
Zine ini berangkat dari perayaan Record Store Day (RSD), sebuah momen tahunan yang dirayakan pecinta musik di seluruh dunia setiap pekan ketiga April. Setelah dua tahun absen, RSD Bogor 2022 hadir kembali dengan tema The Record is Coming Home, yang memelesetkan jargon sepak bola familier Football is Coming Home. Tema ini terasa sederhana, tentang kembalinya budaya rilisan fisik: CD, kaset, dan vinil ke toko musik.
Lewat tulisan Dana Raditya, kita diajak memahami RSD Bogor sebagai titik temu sebuah ekosistem. Ia menyoroti pertemuan kolektor, musisi, penjual rilisan, hingga penikmat musik biasa sebagai momen saling-sapa setelah masa panjang tanpa perjumpaan langsung. Ada penampilan musisi, diskusi label rekaman lokal, hingga kompilasi lagu musisi Bogor, yang semuanya dirangkum sebagai upaya menjaga napas skena agar tetap hidup.
Tulisan Edo Wallad membawa nada yang lebih reflektif dan kritis. Ia mempertanyakan peran pemerintah dalam memajukan musik Kota Bogor, mulai dari pendanaan, infrastruktur, hingga pendidikan musik. Tulisannya yang jujur dan personal, seolah ia sedang mengakui kegelisahannya sendiri sebagai bagian dari skena yang kerap berjuang secara swadaya.
Sementara itu, Raka Dewangkara menutup zine dengan optimisme yang menular. Ia melihat Bogor sebagai “kota hujan yang banjir rilisan”. Deretan musisi, band, dan label yang bermunculan menjadi bukti bahwa kreativitas tetap tumbuh, meski kota ini sering terhimpit pamor Jakarta dan Bandung. Perlahan, musik Bogor menemukan identitasnya sendiri.
Epilog
Zine ini mengajak pembaca untuk kembali menghargai proses, komunitas, dan rilisan fisik di tengah derasnya arus digital. Di saat banyak hal terasa serba cepat dan instan, zine ini seperti mengajak berhenti sejenak: membuka rak, memegang sampul, dan mendengarkan cerita di balik setiap rekaman. Musik, pada akhirnya, selalu tahu jalan pulang, dan zine ini adalah salah satu penunjuk arahnya.

Leave a Reply