Identitas Buku
Superiots 17: Aku Ingin Pulang ditulis oleh Oktavyani Pratiwi sebagai edisi terbatas yang lahir dari perayaan 17 tahun perjalanan band Superiots, dan hanya dicetak sebanyak 170 eksemplar. Buku setebal 119 halaman ini bukan sekadar biografi band, melainkan catatan personal tentang perjalanan sebuah band yang tumbuh dari jalanan.
Prolog
“Anugerah terbesar bagi seorang musisi adalah talenta bermusik, yang mencakup kemampuan bernyanyi, kemampuan memainkan alat musik, kepekaan bermusik dan bakat dalam menciptakan karya sebagai bentuk panggilan hidup”
Kalimat pembuka untuk memahami makna musik secara lebih dalam. Bahwa esensi musik dalam sebuah band bukan semata soal uang. Musik adalah tentang ekspresi, passion, jiwa, dan dampak sosial yang lahir dari sebuah karya. Setiap lagu yang diciptakan seolah membawa identitas, bahkan “roh”, dari penciptanya sendiri.
Sinopsis
Buku ini bercerita tentang perjalanan Superiots, band punk rock yang berdiri sejak 2009. buku ini bukan cerita tentang popularitas atau kesuksesan instan. Ini adalah cerita tentang proses—tentang jatuh bangun, kehilangan, kesetiaan, dan keberanian untuk terus berjalan meski sendirian.
Kisah Bonet sebagai pendiri menjadi salah satu bagian yang paling personal. Ia memulai semuanya dari nol, dengan latar belakang ekonomi yang sulit dan keterbatasan pendidikan. Hidup membawanya pada berbagai pekerjaan serabutan. Namun, musik menjadi satu-satunya jalan yang ia yakini. Semangatnya tidak lahir dari ambisi besar untuk terkenal, melainkan hanya ingin didengar.
Buku ini juga menyoroti dinamika internal Superiots, termasuk hengkangnya Epang dan hadirnya Manda Rose sebagai vokalis baru di awal 2024. Kehadiran Manda membawa warna baru, meski sempat menuai pro dan kontra.
Superiots menggunakan musik sebagai medium kritik sosial. Lirik-lirik mereka tidak sekadar bercerita tentang cinta, tetapi juga tentang ketidakadilan, kehidupan jalanan, dan realitas sosial. Musik menjadi alat perlawanan yang damai, meski sering kali dianggap “berbahaya” oleh sebagian pihak.
Buku ini menegaskan bahwa musik bukan soal uang atau popularitas. Musik adalah jiwa. Ia adalah bagian dari hidup, dari identitas, dari cara seseorang berbicara kepada dunia.
Epilog
Superiots mungkin bukan band yang paling populer, tetapi mereka memilih untuk bertahan. Dan di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, bertahan dengan jati diri sendiri justru terasa seperti sebuah keberanian.
Saat banyak orang mudah menyerah atau sibuk mengejar validasi, Superiots menunjukkan hal yang berbeda. Mereka tetap berjalan, tetap jujur, dan tetap menjadi diri sendiri.
Satu hal sederhana dari buku ini: bahwa “pulang” bukan selalu tentang tempat, tapi tentang tetap setia pada perjalanan yang kita pilih.

Leave a Reply