Identitas Buku
Kata Dochi: Sebuah Memoir Memori ditulis oleh Dochi Sadega, sosok yang dikenal sebagai otak kreatif band Pee Wee Gaskins. Buku ini pertama kali terbit pada Februari 2021 dan diterbitkan oleh PT. Bukune Kreatif Cipta. Dengan tebal sekitar 220 halaman, buku ini dipasarkan dengan harga Rp110.000 untuk wilayah Pulau Jawa.
Melalui buku ini, Dochi tidak hanya menjual kisah sukses, tetapi juga kegagalan, rasa dendam, serta cara ia bertahan hidup di tengah kerasnya industri kreatif.
Prolog
Dochi, dengan gaya khas kacamata frame tebal dan topi snapback-nya, telah menjadi ikon bagi banyak anak muda yang tumbuh di medio 2000-an. Pada masa itu, era MySpace sedang berada di puncaknya, sementara musik pop punk mulai merajai telinga remaja Indonesia.
Namun, inti dari buku ini sebenarnya adalah tentang “revenge” atau balas dendam. Dochi menceritakan bagaimana ia pernah dikucilkan dari scene dan bagaimana rasa sakit hati itu kemudian ia ubah menjadi penyemangat untuk membangun bandnya, Pee Wee Gaskins (PWG).
Sinopsis
Kata Dochi bukan sekadar memoar tentang perjalanan band. Buku ini merupakan potret tumbuh kembang seorang anak muda Yogyakarta yang mencari jati diri melalui musik, pertemanan, cinta, dan bisnis. Dochi bercerita tentang masa kecilnya yang unik, tentang julukan “Dokter Cinta” yang akhirnya melekat menjadi identitasnya, hingga fase emo yang membentuk warna musiknya.
Bagian yang paling kuat tentu saja kisah lahirnya band Pee Wee Gaskins. Band ini lahir bukan hanya dari semangat bermusik, tetapi juga dari luka dan keinginan untuk membuktikan diri. Nama yang diambil dari sosok serial killer justru dipilih dengan nuansa ironi—Dochi ingin membuat orang melupakan makna gelapnya melalui musik yang cerah dan penuh energi.
Buku ini juga menyinggung fenomena toxic masculinity di skena musik. Mulai dari ejekan karena gaya berpakaian, tuduhan sebagai “band homo”, hingga konflik dengan komunitas lain seperti APWG (Anti Pee Wee Gaskins).
Namun, buku ini tidak berhenti pada cerita musik. Dochi membawa pembaca memasuki fase “from band to brand”. Ia memanfaatkan popularitasnya untuk membangun berbagai bisnis seperti Sunday Sunday Co, HomeRibs, hingga One Triple Nine. Ia berbicara tentang personal branding—bahwa brand pertama yang harus dibangun sebenarnya adalah diri sendiri.
Di sela-sela cerita yang cukup serius, Dochi juga menyelipkan humor khasnya, termasuk bagian “cara ngajak mantan balikan” yang ditulis dengan gaya blak-blakan. Ada pula tips menulis lagu yang sangat sederhana: gunakan bahasa yang dikuasai, tambahkan detail waktu agar terasa lebih personal, dan tulislah dari sudut pandang yang jujur.
Epilog
Kata Dochi bukan hanya memoar seorang musisi. Buku ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari jalur yang aman. Kadang, ia tumbuh dari rasa sakit, dari ejekan, dan dari tekad untuk membuktikan bahwa kita bisa menjadi “satu di antara sejuta orang” yang berani mengambil jalan berbeda.
Setelah menutup halaman terakhir, saya merasa semakin yakin bahwa menjadi diri sendiri memang tidak selalu mudah, tetapi selalu layak untuk diperjuangkan.
Link pembeliaan buku: https://s.shopee.co.id/6AgYqMTCci?share_channel_code=1

Leave a Reply