Identitas Buku
Hijab Metal: Pergulatan Identitas Perempuan Underground ditulis oleh Rizky Hafiz Chaniago. Karya setebal 132 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit Semut Api pada tahun 2023 untuk cetakan pertamanya. Dengan harga sekitar Rp65.000 untuk wilayah Pulau Jawa, buku ini terasa cukup ramah bagi pembaca umum yang ingin mengenal sisi lain dunia musik metal sekaligus pergulatan identitas perempuan di dalamnya.
Prolog
Stigma negatif terhadap hijabers metal adalah risiko yang hampir tak terpisahkan dari pilihan hidup mereka. Bagi sebagian besar masyarakat, gaya hidup metal dianggap tidak selaras dengan tradisi Islam. Dalam kehidupan kontemporer yang sarat citra dan penampilan, nilai spiritual sering kali diukur dari apa yang tampak di luar—busana, simbol, dan gaya—alih-alih dari kedirian serta praktik hidup sehari-hari. Di ruang yang penuh prasangka inilah para hijabers metal berdiri. Mereka menanggung pandangan sinis, namun pada saat yang sama tetap mempertahankan pilihan hidup yang diyakini, meski kerap disalahpahami.
Sinopsis
Buku ini memotret fenomena yang mulai muncul pasca jatuhnya rezim Soeharto di tahun 1998, ketika Indonesia memasuki era keterbukaan budaya. Di masa itu, subkultur metal mulai diterima luas. Perlahan, kaum hawa—termasuk mereka yang berhijab—mulai melebur ke dalam skena yang selama ini identik dengan dunia maskulin. Pertemuan dua identitas yang kerap dianggap bertolak belakang ini tentu memicu kontroversi dan hujatan, terutama dari sudut pandang keagamaan yang kaku.
Melalui buku ini, saya diajak memahami bahwa bagi para hijabers metal, musik ekstrem bukan sekadar soal gaya atau sensasi. Ia menjadi ruang pelampiasan emosi, sekaligus untuk mengekspresikan kegelisahan terhadap ketidakadilan sosial. Menariknya, pilihan hidup ini sering kali dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Ada kisah tentang Iwed yang ayahnya adalah pensiunan Departemen Agama, hingga Fauziah yang berjanji pada ibunya untuk tidak pernah meninggalkan salat lima waktu meski aktif di komunitas metal.
Bagi mereka, hijab justru berfungsi sebagai pelindung diri di tengah lingkungan konser yang sangat didominasi laki-laki dan rawan pelecehan seksual. Mereka melakukan negosiasi identitas agar tetap bisa menjaga rasa kewanitaan dan keimanan sambil tetap berkarya secara profesional di jalur musik pilihan mereka.
Epilog
Menutup buku ini, saya merasakan refleksi emosional tentang betapa seringnya kita menghakimi seseorang hanya dari atribut luar. Kita sering lupa bahwa di balik pakaian atau jenis musik yang didengarkan, ada manusia yang sedang berusaha mencari keseimbangan hidupnya sendiri.
Buku ini terasa relevan dengan kondisi sosial hari ini, ketika kita masih sering mengurung orang dalam kotak-kotak identitas yang sempit. Pesan utama yang saya tangkap adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara urusan duniawi dan akhirat. Para hijabers metal dalam buku ini menunjukkan bahwa seni dan iman bisa berjalan beriringan, selama dijalani dengan kesadaran dan tanggung jawab. Buku ini adalah pengingat bahwa jangan sampai bakat atau potensi diri terkurung hanya karena stigma masyarakat, karena setiap manusia punya hak untuk berkarya dengan jati diri yang ia yakini.
Link pembeliaan buku: https://s.shopee.co.id/60N8du6rtU?share_channel_code=1

Leave a Reply