Identitas Buku
Don’t Read This! Catatan Melodic Punk Bandung dari Masa ke Masa karya Prabu Pramayougha terbit pertama kali pada Mei 2022 melalui penerbit Bukune. Dengan ketebalan 381 halaman, buku ini bukan sekadar kumpulan cerita musik, melainkan arsip panjang yang merangkum perjalanan subkultur yang pernah hidup, tumbuh, dan berdenyut di Kota Bandung.
Prolog
Sejak era analog hingga digital, rasanya ada anomali tersendiri yang melekat pada istilah melodic punk di kancah musik lokal. Tak jarang, musisi maupun jurnalis musik merasa kebingungan untuk mengategorikan genre sebuah band ketika musiknya terdengar serupa dengan spektrum punk rock “bernyanyi”. Namun, jika kita telaah lebih seksama—baik dari segi teknis permainan, nuansa bunyi, hingga jejak historisnya—nyatanya ada perbedaan signifikan di antara subgenre tersebut. Dirunut dari cikal bakal bunyi dan estetikanya, genre melodic punk ini sangat dipengaruhi oleh dua subgenre punk rock yang sama-sama berkembang sejak tahun 1980-an, yaitu melodic hardcore dan skate punk.
Sinopsis
Buku ini memotret melodic punk bukan hanya sebagai genre musik, tetapi sebagai bagian dari geliat industri kreatif lokal—mulai dari menjamurnya distro hingga lahirnya label rekaman independen di Bandung. Prabu Pramayougha membagi perjalanan ini ke dalam tiga babak besar: Era Formatif (1994–1998), Era Gemilang (1998–2004), dan Era Dubius (2004–2008).
Di awal kemunculannya, musik ini terasa cukup eksklusif. Jalur masuknya banyak datang dari kalangan “anak gedongan” yang memiliki akses terhadap informasi luar negeri, terutama melalui hobi seperti skateboard dan BMX. Namun, situasi mulai berubah ketika MTV hadir di layar kaca Indonesia pada 1993, disusul oleh ledakan album Dookie milik Green Day yang mengguncang industri musik global.
Saya sangat menikmati bagaimana penulis menceritakan peran penting “tongkrongan” seperti Barudak TL (Taman Lalu Lintas) dan Tongkrongan PI sebagai ruang tumbuhnya band-band besar seperti Rocket Rockers, Sendal Jepit, hingga Buckskin Bugle.
Menariknya, buku ini juga menunjukkan bagaimana media seperti MTV, lalu disusul oleh internet—terutama di era Myspace—perlahan mengubah peta persebaran musik. Apa yang awalnya hanya dinikmati segelintir orang, akhirnya menjadi konsumsi yang jauh lebih luas dan terbuka.
Meski begitu, perjalanan melodic punk tidak selalu berjalan mulus. Memasuki era dubius, gelombang genre baru seperti emo dan post-hardcore mulai menggeser dominasinya. Prabu mencatat fase ini dengan jujur, termasuk polemik seputar istilah “melodic” yang bagi sebagian musisi justru terasa terlalu sederhana, bahkan banal, untuk mewakili kompleksitas musik mereka.
Epilog
Meski perlahan meredup, eksistensi melodic punk tetap terasa, walau hanya sayup-sayup di tengah hingar bingar musik cutting edge yang kala itu semakin beragam. Salah satu alasan paling kuat dari kemundurannya adalah munculnya berbagai alternatif musik baru yang dianggap lebih mewakili semangat dan selera anak muda pada zamannya. Memasuki akhir 2000-an hingga awal 2010, Bandung berada dalam fase ledakan keberagaman musik yang begitu pesat.
Ambil contoh musik rock alternatif atau indie rock yang mulai semakin digandrungi sekitar tahun 2008 hingga 2010. Popularitasnya didorong oleh berbagai perhelatan seperti Indiefest, serta kemunculan band-band dari skena Ibu Kota yang tampil di berbagai panggung musik Bandung.
Tak hanya itu, gelombang baru juga datang dari band-band pop punk dengan sentuhan synthesizer yang lebih ceria dan penuh warna. Fenomena ini, konon, dipicu oleh kesuksesan lagu “Terobsesi” dari Rocket Rockers pada 2008, yang kemudian diikuti oleh kemunculan band-band seperti Goodboy Badminton dan Pee Wee Gaskins dari Jakarta.
Pada akhirnya, melodic punk mungkin memang telah melewati masa jayanya. Namun, jejaknya tetap tinggal—sebagai bagian dari perjalanan panjang musik dan pembentukan identitas anak muda Bandung pada masanya.

Leave a Reply