Identitas Buku
Rocket Rockers #cheersfromrocketrockers ditulis oleh Rocket Rockers bersama para kontributor naskah yang ikut menerjemahkan lagu-lagu mereka menjadi cerita yang lebih personal. Buku ini diterbitkan pada Februari 2018 oleh Pastel Books dengan ketebalan 320 halaman dan dibanderol sekitar Rp80.000. Sebagai band yang telah lama tumbuh di skena musik indie Indonesia, Rocket Rockers mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda: bukan sekadar kumpulan lirik atau sejarah band, melainkan potongan kenangan yang dirangkai menjadi kisah-kisah hangat tentang hidup.
Prolog
Rocket Rockers seperti sedang memanggil kembali memori tentang musik yang pernah memengaruhi mereka 16 tahun lalu. Trek Mimpi Menjadi Sarjana—yang konon menggambarkan sisi akademis para personelnya—sukses membuat saya kembali membuka folder skripsi lama sambil tersenyum kecil mengingat masa-masa itu. Dan yang paling membuat saya salut, Rocket Rockers selalu punya cara cerdik untuk mempertahankan eksistensinya. —Boniex Noer, vokalis Band Eirene, Editor in Chief web ROI! Radio Bandung, Associate Producer NET TV
Hampir separuh masa SMA saya diisi oleh lagu-lagu Rocket Rockers. Album Soundtrack For Your Life, Ras Bebas, Better Season, hingga Tons of Friends diam-diam ikut membentuk cara saya memandang hidup. Salah satunya lewat lagu Episode Ini, yang membuat saya tergerak untuk mendokumentasikan banyak hal dalam perjalanan hidup saya. Kehadiran buku ini seperti membawa saya pulang ke masa-masa SMA yang konyol, cheesy, bahkan terkadang terasa cringey. Namun, masih tetap saya sukai. —Surya Fikri Asshidiq (@kuyasunda), Founder Gilanda & Gabuts Zine, Drummer The Panturas
Sinopsis
Rocket Rockers #cheersfromrocketrockers bukan sekadar buku tentang perjalanan sebuah band. Buku ini lebih mirip kumpulan cerita hidup yang lahir dari lagu-lagu mereka sendiri. Setiap bab diambil dari judul lagu Rocket Rockers seperti Tergila, Mimpi Menjadi Sarjana, Ingin Hilang Ingatan, hingga Reuni. Menariknya, lagu-lagu itu tidak hanya dijelaskan proses kreatifnya, tetapi juga diterjemahkan menjadi kisah-kisah emosional yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satu bagian yang paling membekas adalah cerita di balik Mimpi Menjadi Sarjana. Lagu dan kisahnya menggambarkan perjuangan anak muda menghadapi tekanan hidup, tugas kuliah, ekspektasi keluarga, dan rasa takut gagal. Rasanya relevan sekali dengan kehidupan sekarang, ketika banyak orang berlomba terlihat sukses, padahal diam-diam sedang kelelahan mengejar arah hidupnya sendiri.
Selain itu, kisah di balik Ingin Hilang Ingatan juga terasa sangat emosional. Ada rasa kehilangan yang tidak dibuat-buat. Buku ini seperti ingin mengatakan bahwa tidak semua luka harus langsung sembuh; beberapa hanya perlu diterima perlahan.
Latar belakang lahirnya buku sekaligus album Cheers From Rocket Rockers pun terasa menarik. Rocket Rockers ingin memperkenalkan kembali lagu-lagu lama mereka kepada generasi pendengar baru. Di tengah cepatnya perubahan musik dan budaya populer, mereka mencoba menjembatani nostalgia dengan semangat anak muda masa kini.
Sebagai band indie yang telah bertahan sejak akhir 1990-an, Rocket Rockers juga menunjukkan bahwa eksistensi tidak selalu harus dibangun lewat sensasi. Kadang, konsistensi dan kedekatan emosional dengan pendengar justru menjadi alasan mengapa sebuah karya bisa terus hidup.
Epilog
Buku ini mungkin akan terasa sangat spesial bagi para penggemar Rocket Rockers. Namun, bahkan bagi pembaca yang tidak mengikuti perjalanan band ini sekalipun, Rocket Rockers #cheersfromrocketrockers tetap menyenangkan untuk dibaca karena ia berbicara tentang hal yang sangat manusiawi—tentang bertumbuh dan belajar menerima hidup.
Buku ini juga terasa lebih dari sekadar pelengkap rilisan fisik sebuah band. Ia seperti perayaan kecil atas proses menjadi dewasa. Rasanya, buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang sedang berusaha menyembuhkan luka masa lalu atau sekadar ingin bernostalgia dengan masa muda yang penuh warna.
Pada akhirnya, buku ini mengingatkan saya bahwa sejauh apa pun kita melangkah, pilar terbaik dalam hidup adalah mereka yang tulus bertahan, meski tahu kita jauh dari kesempurnaan.

Leave a Reply