Identitas Buku
Kisah Lainnya: Catatan 2010–2012 ditulis oleh para personel Peterpan yang sekarang kita kenal sebagai NOAH: Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David. Buku ini pertama kali terbit pada Agustus 2012 dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Dengan tebal sekitar 228 halaman, buku ini hadir bukan sekadar sebagai autobiografi band, melainkan sebagai kumpulan catatan personal tentang fase paling gelap sekaligus paling menentukan dalam perjalanan sebuah nama besar di musik Indonesia.
Prolog
Malam di sekitar Mei 2010, suasana rapat tentang peluncuran album terbaru Peterpan mendadak berubah sunyi bagi Ariel. Sebuah kabar yang awalnya dianggap hoaks, seketika mengacaukan isi kepalanya. Ia menjauh dari kebisingan ruang rapat; tempat itu ramai, tetapi terasa sunyi. Langkah kakinya tak lagi mengarah ke panggung megah, melainkan menuju balik jeruji besi, tempat jantung berdetak lebih keras, wajah memucat, dan tangan bergetar menghadapi ketidakpastian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sinopsis
Melalui buku ini, Ariel menceritakan tentang kekhawatirannya saat pertama kali terseret kasus video panas yang menghebohkan publik pada 2010. Ia berbagi kisah tentang 750 hari yang ia habiskan di balik jeruji besi, dari Rutan Bareskrim hingga Kebon Waru, termasuk bagaimana ia menjalankan ibadah puasa di tengah stigma negatif media.
Namun, buku ini tidak hanya tentang Ariel. Saya diajak melihat sisi lain dari Uki, Lukman, Reza, dan David yang setia menanti sahabat mereka. Ada bagian yang sangat menyesakkan saat menceritakan perjuangan David yang mengalami near death experience, pengalaman nyaris mati akibat komplikasi operasi batu empedu. Persahabatan mereka diuji melampaui urusan musik; mereka belajar tentang kepasrahan, sekaligus menemukan kekuatan dalam doa.
Buku ini membawa saya kembali ke masa remaja mereka—masa ketika mereka hanyalah anak-anak laki-laki biasa yang menggilai Nirvana atau Oasis dan bermimpi menjadi anak band. Latar belakang sosial sebagai pemuda Bandung yang mencari jati diri melalui musik kafe memberi konteks yang kuat tentang mengapa mereka tumbuh begitu tangguh ketika badai datang.
Epilog
Kisah Lainnya: Catatan 2010–2012 mengajarkan tentang kerendahan hati dalam menerima takdir dan keberanian untuk bangkit kembali dari keterpurukan. Persahabatan Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David memberikan pelajaran berharga tentang arti kesetiaan yang melampaui kepentingan bisnis semata.
Membaca catatan ini menyadarkan saya bahwa seaneh apa pun kehidupan yang kita jalani, ia tetaplah sebuah keajaiban yang layak disyukuri. Mereka kini telah sampai di sebuah persimpangan, bersiap meneruskan perjalanan dengan napas jiwa yang baru.

Leave a Reply